Pekerja Mandiri yang Independen dalam irama Entrepreneur dan Investor (bagian 1)


Happy Friday-Sahabat dan Mentor Korporatisasi saya Mas Iman, pernah sharing kenapa beliau di banyak tulisannya membedah Perusahaan-Perusahaan level dunia, 200 tahun dari sekarang.

Padahal saat ini, perusahaan-perusahaan itu sudah establish dan bisa dikatakan autopilot dalam semangat Korporatisasi di bursa saham dunia.

Untuk memahami siapa mereka hari ini, perlu kembali ke awal-awal bagaimana mereka di bentuk dengan sebuah visi yang sangat jelas.


Manusia macam apakah kamu waktu itu?

Sama kejadiannya, ketika ada pertanyaan cerdas dari Rasulullah Muhammad SAW 14 abad yang lalu, "Jika negeri-negeri Persia dan Rum (Romawi Timur) sudah kamu taklukkan, manusia macam apakah kamu waktu itu, Ayyu qaumin antum?.”

Pekerja Mandiri yang Independen (Bagian 1)
Jika perusahaan semacam GE (General Electric) bisa bertahan, walau core-nya sudah beda, jika dahulu core-nya di lampu di era Thomas Alva Edison, hari ini di bidang finance, maka saat itu negeri Arab, termasuk kecil di banding Imperium Persia dan Romawi.

Baru setelah 7 abad kemudian di tahun 1451 M, Rum (Romawi Timur dengan Ibukotanya Konstantinopel-Istanbul, Turki sekarang-Pen), jatuh ke tangan pejuang Islam, Sultan Muhammad Al Fatih.

Dalam sebuah hadits dikatakan "Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Intinya, untuk bisa menaklukkan Imperium terbaik saat itu, dibutuhkan Pemimpin dan Pengikutnya, orang-orang pilihan.

Jika kita lihat Indonesia hari ini, meminjam istilah Abah Dahlan Iskan DisWay.id, manusia seperti apa yang perlu kita cetak di era 'Nadiem Makariem' sebagai Mendikbud RI?

Apakah manusia yang pandai?

Apakah manusia yang berkarakter?

Ataukah manusia yang berbudi pekerti baik?

Mungkin hasil akhir, belum bisa kita lihat dalam jangka pendek 5 tahunan, tetapi jika kita sudah meletakkan dasar-dasarnya, dan konsisten melaksanakannya, bukan mustahil Manusia Pandai, Berkarakter, Berbudi pekerti baik dan hal-hal positif lainnya, akan menjadi nyata.

Dalam Perspektif Motivasi Keuangan, ujungnya akan bertumpu paling tidak pada 3 hal, yakni : Karakter, Kompetensi dan Kapital.


Ujungnya adalah Kapital

Terlalu sempit memang, jika ujung perjalanan manusia adalah semata-mata demi uang (Baca : Pendapatan).

Padahal ada orang bisa hidup tanpa 'uang.'
Paling tidak biografi Mark Boyle dalam bukunya The Moneyless Man (Kisah nyata Hidup setahun tanpa Uang) membuktikannya.

Jika kita perhatikan Alur hidup baik Generasi Kolonial, Selenial, maupun Milenial dan Generasi Z hari ini, mencari Keamanan Pekerjaan (Job Security) tetaplah yang menjadi utama.

Apalagi di daerah yang jauh dari internet dan jaringan nirkabel lainnya.

Paling tidak ini terkonfirmasi ketika pembukaan atau Tes Calon ASN (Aparatur Sipil Negara).

Yang mendaftar ribuan, yang dipilih hanya puluhan sesuai kuota kebutuhan masing-masing instansi.

Begitu pun ketika MNC (Multi National Company) baik BUMN ataupun Swasta membuka lowongan pekerjaan, berbondong-bondong juga orang ke Job Fair untuk merubah nasibnya.

Dan untuk bisa bersaing di perusahaan kelas dunia tersebut, pendidikan saja tidak cukup, masih di butuhkan  keterampilan dan pengalaman kerja yang memadai, minimal aktif di organisasi dan bisnis bagi jalur Management Trainee.
Baru setelah itu muncul pilihan 'orang-orang aneh' yang anti mainstream.

Kita lanjut ke bagian 2 ya…


Hari 'Soul' Putra
Managing Director WealthFlow 19 Technology
www.P3KCheckUp.com
Founder IBC/Indonesian Business Community
Motivator Keuangan
 

 
#PekerjaMandiriYangIndependenDalamIramaEntrepreneurDanInvestorBagian1
#MotivatorKeuangan
#SpiritualFinance
#KetenanganKeuangan
#MotivasiKeuangan
#TerapiKeuangan
#TerapiCashFlow
#MengaturPendapatan
#HariSoulPutra
#ManajemenKeuangan