Kamis, 23 November 2017

Generasi Milenial dalam Branding

"Jangan terjebak dalam Gaya Hidup Semu, tetapi Masuklah dengan Keimanan dalam Gaya Hidup Hakiki yang mengedepankan Akhirat" ~ Hari 'Soul' Putra


Sahabat, jika di sebutkan Kentucky, Gudang garam dan Sosro, tentulah di benak Anda akan tergambarkan Ayam Goreng, Rokok dan Teh Botol.

Iya, apa iya!

Padahal yang dimaksudkan, Kentucky adalah salah satu wilayah atau nama kota di Amerika, Gudang garam adalah benar-benar gudang yang isinya garam dan Sosro adalah nama Pak De Sosro di Jogjakarta.

Tetapi kenapa, ketika disebutkan Kentucky, Gudang garam dan Sosro, yang muncul di benak kita langsung Ayam Goreng, Rokok dan Teh Botol?

Itulah yang disebut The Power of Branding alias kekuatan sebuah Branding.

Menurut Guru Kami, Pak Bi (Subiakto Priosoedarsono), Pakar Branding Indonesia, Branding dari dulu hingga sekarang sama saja esensi-nya, hanya yang membedakannya adalah cara mengaktivasi-nya.

Tetapi masalahnya, jika kita sendiri masih bingung dengan 'branding' kita, bagaimana kita akan Memahami siapa diri Anda, Ingin di kenal sebagai apa alias janji apa yang Anda ucapkan kepada orang lain atau konsumen Anda & Bagaimana membina hubungan dengan pelanggan Anda dll.

Apalagi jika Target Market Anda hari ini adalah Generasi Y atau Generasi Milenial dan Generasi Z atau Generasi Neo Milenial.

Bagaimana menanamkan Branding Anda dalam benak mereka dan mengaktivasinya?

Yuk, simak Program KBI (Komunitas Bisnis Indonesia) di Radio Bina Swara Depok dan jaringannya, bersama :

Hari 'Soul' Putra (Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com Founder IBC/Indonesian Business Community Motivator Keuangan Indonesia).

Dengan Host Senior Radio Bina Swara, Bu Sonaria.

Jum'at, 24 November 2017 M

Pukul 10.00 Wib

http://www.binaswara.id

Atau bisa di dengar melalui 107,8 FM Depok, Jawa Barat

Download di Google Play Store :
Bina Swara FM


#GenerasiMilenialDalamBranding
#InspirasiKeluarga
#KetenanganKeuangan
#MotivasiKeuangan
#TerapiKeuangan

Rabu, 22 November 2017

Spiritual Finance dalam Bisnis

Sahabat, dengan adanya kita memiliki Dashboard Financial, Insya Allah akan memudahkan kita mengecek apakah pekan ini kita lagi menang apa kalah (Laporan Rugi Laba) dalam bisnis kita masing-masing.


Misalkan :
Pekan 1 Win
Pekan 2 Win
Pekan 3 Lose
Pekan ke-4, Misteri Illahi 
Jika berkaca dari DATA di atas, paling tidak SKOR Bisnis kita masih di atas angin, walaupun pekan ke-4 masih misteri.

Ibarat sebuah pertandingan sepakbola, kita akan paham posisi kita hari ini, pekan ini, tahun ini dst hingga kita bisa ambil sebuah keputusan berdasarkan data-data tersebut.

Sekarang, mari kita coba lihat dalam Perspektif SF/Spiritual Finance.

Adagium yang umum dalam SF, "Bisnis itu bukan sekedar Untung Rugi, tapi Syurga Neraka"

Kenapa bicara bisnis dan keuangan, di larikan ke Syurga Neraka?

Sering saya katakan, jika permainan sepakbola saja ada bahasa-nya, misal striker, gelandang serang, offside, penalty dst, apalagi bisnis dan keuangan.

Salah satu atau salah empat dari bahasa bisnis adalah Produk/produksi/jasa, Sumber daya manusia/SDM, Marketing, Keuangan.

Jika kita spesifikkan dari bahasa bisnis tersebut adalah keuangan (finance), maka jantungnya bisnis adalah keuangan.

Jantunglah yang memompakan darah bisnis (Baca : CASH), sehingga mengaliri seluruh persendian bisnis kita.
Tanpa adanya jantung, maka bisnis akan mati.

Walau hari ini, ada banyak bisnis tanpa jantung, apa yang sering kita sebut sebagai Zombie Company.

Perusahaan yang tetap 'hidup' dari mengandalkan FCF (Financing Cash Flow) alias Utang, hidup dari utang.
Pertanyaan-nya, mau sampai kapan hidup bagai Zombie (mayat hidup)?


Perlunya OCF Positif (+)

Kembali ke dashboard financial kita, secara matematika keuangan, tentu apa yang kita tulis di atas, itulah yang mencerminkan sejatinya kondisi keuangan perusahaan/usaha kita.

Tetapi apakah kita pernah berfikir lebih detail, jika menggunakan hitungan matematis di atas, itulah sejatinya usaha kita?


Mari saya bawa Anda ke alam Spiritual Finance.

Kita bisa menuliskan Skor Kemenangan kita ketika Penjualan lebih besar dari HPP/Harga Pokok Produksi (COGS), di kurangi Biaya umum (Expense), di kurangi Pajak.

Sehingga ketemu angka yang kita sebut Nett Profit alias CASH.

Misalkan Anda punya penjualan/sales 100, sementara seluruh total biaya Anda adalah 81, maka OCF +19.
Itulah sejatinya Performance Anda.

Beda jika OCF Anda Negatif, misalkan Penjualan Anda 100, sementara total biaya Anda 119, maka OCF -19.

Kembali ke alam Spiritual Finance.

Mari kita lihat lebih detail, jika penjualan kita dikarenakan kita menggunakan cara yang salah, katakanlah dengan menyuap, apakah masih bisa kita katakan kita mencetak skor menang?
 
Walau secara angka-angka, kita menang!

Disinilah masalahnya, ketika kita menghilangkan 3 kata dalam Laporan Keuangan kita, yakni :
1. Jujur
2. Tekun
3. Sabar
 
Maka sebenarnya, kita lagi menuju Kekalahan Sejati.
Karena, apa-apa yang kita lakukan, selalu berimbas pada sisi akhirat kita nantinya.

Pun begitu juga kebalikannya, jika sepertinya kita kalah dalam skor pertandingan bisnis kita, tapi sudah kita anggarkan buat Sedeqah Terstruktur misalkan, tanpa harus menunggu skor di papan pertandingan bisnis kita, paling tidak dalam skor Akhirat, kita sudah menang.

Memberi tanpa harus punya, itu lebih dahsyat ketimbang ketika kita sudah punya.

Makanya, beberapa perusahaan berbasis Spiritual Company, mereka sedeqah-nya di awal, bukan di akhir layaknya CSR (Corporate Social Responsibility).

Jadi, Spiritual Finance akan mendidik kita :
1. Bermain dengan bahasa bisnis secara benar
Membaca angka-angka dan menerapkannya dalam sebuah kebijakan
2. Jika kalah dalam bahasa bisnis, kita harus mengetahui-nya bahwa kekalahan tersebut, sudah menjadi konsekuensi dari apa yang kita telah lakukan.
Toh semuanya tinggal kita ulang
3. Membaca skor bisnis secara benar adalah mutlaq bagi seorang pebisnis.
 
Makanya memahami berat bisnis dengan neraca, tahu lagi menang atau kalah dalam satu lembar laporan keuangan, perlu kita membacanya tiap hari.

Di luar dari ke-3 hal di atas, Spiritual Finance memberikan energi positif untuk berbisnis dengan JUJUR, tanpa ada kejujuran maka di laporan keuangan akan menjadi angka-angka tanpa makna.

Wallahu'alam Bisshowab

Hari 'Soul' Putra Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com Founder IBC/Indonesian Business Community Motivator Keuangan Indonesia 0815 1999 4916


#SpiritualFinanceDalamBisnis
#CaraKerenMemahamiUang
#KetenanganKeuangan
#MotivasiKeuangan
#TerapiKeuangan
#TerapiCashFlow

Kamis, 09 November 2017

Generasi Milenial : Menabung dan Berinvestasilah agar menjadi Sejahtera

"Formula menjadi Sejahtera yang hakiki itu, selain adanya IMAN juga Istiqomah dalam Bagi (:), Tambah (+), Kali (x) dan Kurang (-) dalam irama Redho Allah SWT" ~ Hari 'Soul' Putra


Jika jum'at kemaren kita sudah membahas 3 kesalahan mendasar dari Generasi Milenial dan solusi praktisnya, yakni :
1. Kebiasaan kumpul-kumpul, sehingga tidak ada kesempatan untuk menabung, apalagi investasi
2. Ketersediaan sarana atau platform ekonomi berbagi (sharing economy) yang melenakan
3. Experiential learning
Cara baru Generasi Gadget ini menikmati hidup.

Maka kali ini kita akan membedah, Karir Keuangan seperti apa yang harusnya Generasi Milenial punyai, agar bisa menabung dan berinvestasi agar menjadi sejahtera.

Tentu, setiap person anak-anak jaman NOW akan berbeda Kebutuhan dan Keinginan-nya, tetapi umur mereka akan terus menanjak seiring waktu.

Hanya masalahnya, apakah semakin tinggi umur, aset mereka juga akan naik?

Ataukah malah kebalikannya?

Yuk, simak Program KBI (Komunitas Bisnis Indonesia) di Radio Bina Swara Depok dan jaringannya, bersama :

Hari 'Soul' Putra (Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com Founder IBC/Indonesian Business Community Motivator Keuangan Indonesia).

Dengan Host Senior Radio Bina Swara, Bu Sonaria.

Jum'at, 10 November 2017 M

Pukul 10.00 Wib

http://www.binaswara.id

Atau bisa di dengar melalui 107,8 FM Depok, Jawa Barat

Download di Google Play Store :
Bina Swara FM


#GenerasiMilenial
#MenabungDanBerinvestasilahAgarMenjadiSejahtera
#InspirasiKeluarga
#KetenanganKeuangan
#MotivasiKeuangan
#TerapiKeuangan

Selasa, 24 Oktober 2017

Kenapa Karyawan Anda perlu Melek Keuangan?

Di sebuah sesi Public Training, ada seorang Dosen Ekonomi dari sebuah perguruan tinggi terkenal menghampiri saya.
 
"Pak Hari, bagaimana cara saya mengatur uang gaji saya setiap bulan" tanya beliau.

Saya yakin sekali, dosen tersebut sangat paham jika harus menghitung keuangan sebuah perusahaan.
 
Menganalisa secara detail, dengan rasio-rasio keuangan yang banyakpun menjadi makanan sehari-hari beliau.
 
Dan tentu, beliau lebih tahu jika keuangan sebuah perusahaan dikelola dengan tidak disiplin, tentu akan menghancurkan perusahaan tersebut.

Tetapi masalahnya, setiap akhir bulan menerima gaji, beliau selalu datang lebih awal ke sebuah mall, berbelanja lebih banyak dari biasanya.
 
Begitu akhir bulan, persediaan gaji sudah semakin menipis, dan jurus Membuka Kartu Kredit langsung beraksi.
Begitu setiap bulan terjadi, tanpa bisa mengerem gaya hidupnya.

Apa pesan dari pengalaman di atas?
 
Tidak cukup kita Tahu dan Paham saja tentang Ilmu Mengelola Keuangan, tetapi perlu sebuah KeSADARan agar kita benar-benar Melek Keuangan.


Melek Keuangan bagi Karyawan

Apa itu Melek Keuangan?
 
Sederhananya sebuah perilaku yang sadar keuangan (tidak sekedar tahu dan paham saja tentang pengetahuan pengelolaan keuangan), tetapi juga bisa mendayagunakan pengetahuan tersebut buat mencapai kemerdekaan dan ketenangan keuangan.

Kenapa harus merdeka dan tenang keuangan?
 
Selagi kita masih mencari uang, maka sebenarnya kita belumlah merdeka dari uang.

 
Merdeka dari uang, bukan berarti kita tidak butuh uang, tetapi tidak sekali-kali kita diperbudak atau diperhamba oleh uang.
 
Berapa banyak dari kita mau Financial Freedom dengan cara Pindah Kuadran ala Cash Flow Quadrant-nya Kiyosaki, tetapi yang terjadi akhirnya tidak punya waktu lagi buat keluarga, kerjanya hampir 24 jam sehari, bahkan dirinyanpun didzolimi.
 
Esensinya merdeka keuangan adalah cukup uang dan isi dunia di tangan, bukan di hati.

Secara garis besarnya, kita akan melewati Fase Kesenangan Keuangan, lalu Ketegangan Keuangan dan berakhir di Ketenangan Keuangan, jika kita naik kelas.
Bagaimana jika kita tidak naik kelas, yang terjadi adalah Cobaan Keuangan.

Mari kita lihat sejenak, seorang karyawan yang punya penghasilan standar UMP/Upah Minimum Provinsi atau sedikit di atas UMP, jika mau disiplin sedikit, akan bisa menabung atau investasi 5-10% dari penghasilannya.

Tetapi, ketika beliau naik menjadi Supervisor atau Manager, maka otomatis Gaya Hidup-nya naik dan Utangnyapun bertambah.

Belum lagi jika dia dan isterinya, tidak tahu cara mendayagunakan uang tersebut.

Disinilah, pangkal masalah keuangan terjadi, sama-sama 'Buta Keuangan'.

Mau tidak mau, suka tidak suka, Anda harus Melek Keuangan dan jadi Aktivis Gaya Hidup Sehat Keuangan.


Peran bagian SDM Perusahaan

Disini pulalah peran HR/Human Resource atau bagian SDM/Sumber Daya Manusia berperan sebagai bridging atau jembatan, antara Praktisi Keuangan dan Karyawan dan Keluarganya tadi untuk dipertemukan.

Kenapa HR atau bagian SDM?
 
Hari ini, persoalan utang bukan lagi sebuah persoalan yang tabu/rahasia.
 
Setiap hari tawaran kredit dari KTA, Koperasi, Jalan-jalan dll beredar dari Sms ke Media sosial kita seperti FB, WA, Telegram dll.
 
Belum lagi jika kita menginstal aplikasi Instagram, maka godaan BELANJA menjadi menu sehari-hari di Smartphone kita.

Apakah itu salah?
 
Tidak bagi para penjual, tapi bagi pembeli yang tidak bijak, akan jadi boomerang yang akan menghancurkan fondasi keuangan Anda.
 
Apa itu Fondasi Keuangan kita?
1. Saving
2. Protection
3. Asset.

Mungkin kita menganggap, cicilan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) adalah kebutuhan, KPM (Kredit Pemilikan Mobil/Kendaraan) juga kebutuhan, Asuransi berbasis Unitlink adalah kebutuhan dll.
 
Dari kebiasaan utang yang menjadi kebutuhan merambah ke Kartu Kredit adalah juga kebutuhan, ketika tawaran KTA (Kredit Tanpa Agunan) juga kebutuhan hingga akhirnya Kredit Tupperware dan Kredit Panci pun sebagai sebuah kebutuhan.
Jika kebutuhan tidak terbatas, maka masalah keuangan yang Anda hasilkan dari gaji tiap bulan, terbatas.
 
Disinilah mulai muncul masalah, alih-alih semua merasa kebutuhan, maka lebih besar pasak daripada tiang.


Utang yang melenakan

Suatu hari, utang itu akan meledak dan mulailah Anda gali lubang tutup lubang.
 
Bekerja sudah mulai tidak nyaman, tiap hari di teror oleh Debt Collector (DC), ujungnya juga berimbas ke bagian HRD.

Anda yang menjadi kepala sebuah departemen HR, sibuk mengangkat telepon dan bertemu DC untuk menjadi Benteng Pertahanan terakhir, akibat karyawan Anda yang berutang.

Secara performa, karyawan Anda menurun, otomatis produktivitas perusahaan menjadi lambat.

Apakah benar, yang karyawan Anda nilai sebagai sebuah kebutuhan, benar-benar kebutuhan?


Ringkasnya, kebutuhan adalah yang benar-benar kita sangat butuhkan, misalnya makan.

Tetapi, jika kebutuhan tersebut bisa kita tunda, maka itu disebut keinginan, misalnya makan-makan sama teman.

Jika ini saja kita tidak bisa bedakan, bagaimana kita bisa membedakan mana yang disebut Simpanan, Tabungan dan Investasi.
 
Mana yang membedakan Utang dan Harta?
 
Apa yang membedakan Aset Otot dan Aset Lemak dll.
Inilah yang saya kira perlu bagian HRD pahami dan karyawan beserta keluarganya sadari untuk Melek Keuangan.

Sebelum saya akhiri tulisan ringkas ini, mari kita pikirkan prioritas mana yang harus kita dahulukan, apakah Kebutuhan hidup sehari-hari kita, Gaya hidup, Utang, Sedeqah/zakat/Sosial, Menabung, Investasi atau Proteksi?

Lalu berapa persen pembagiannya sebagai panduan kita agar Sehat Secara Keuangan?

Jika ini sudah CLEAR, maka menatap Masa Depan Cerah Keuangan menuju kesejatian Kemerdekaan Keuangan dan Ketenangan keuangan bukan lagi sebuah masalah.


Hari 'Soul' Putra Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com Founder IBC/Indonesian Business Community Motivator Keuangan Indonesia 0815 1999 4916



#KenapaKaryawanAndaPerluMelekKeuangan
#GayaHidupSehatKeuangan
#KetenanganKeuangan
#MotivasiKeuangan
#TerapiKeuangan
#TerapiCashFlow

Minggu, 22 Oktober 2017

Puasa Ing Rame

Tahun 2011, saya mengenal KOI (Komunitas Organik Indonesia) dengan Expo Pertama-nya, OGH (Organic, Green & Healthy).

Saya terlibat dalam event tersebut hingga melahirkan Kopsi (Koperasi Produk Sehat Indonesia).
 
Intinya adalah menselaraskan hidup kita dengan alam, punya Gaya Hidup Organik (organic life style).

Tahun 2012 saya dikenalkan dengan IIBF dan Gerakan Beli Indonesia, dimana ajarannya menganjurkan untuk HIJRAH lepas dari Riba dan memiliki Gaya Hidup Sehat Keuangan (financial healthy life style)

Tahun 2017 saya dikenalkan Konsep Self Regulatory, dimana kita yang menjadikan diri kita, melakukan seluruh aktivitas dari diri kita harus Halal dan Toyyib oleh Founder Bumi Langit Institute.
 
Self Regulatory ini tidak boleh melanggar Ethic System dan ADAB terhadap alam semesta.

Walau cara dan perjuangannya berbeda, tapi mereka sepakat jika kapitalisme adalah musuh bersama.

Yang pertama menganggap ketidakadilan berpangkal dari kapitalisme, maka Koperasi merupakan bentuk perlawanannya.
Fokusnya pada pemberdayaan Pasar-Pedagang/artisan-Paguyuban-Produsen-Pembeli.

Yang kedua secara tegas melakukan perlawanan terhadap Kapitalisme Konvensional Ribawi, lawan dari Syariah Sedeqawi.
Membangun Karakter melalui Pendidikan Mental Kaya dan menuju keSejahteraan, sebagaimana layaknya pengusaha kelas dunia yang bertaqwa.

Yang ketiga, siklus kehidupan kita tidak terlepas 'framing' kapitalisme agar produk dan jasa mereka menjadi laku.
Pengobatan Kedokteran Konvensional hari ini berbasis Kimiawi, yang secara jangka panjang merusak tubuh kita.
Untuk itulah Back to Nature dalam irama Kemanusiaan yang ADIL dan berADAB menjadi Praktek Kesehariannya.

Pesan dari ketiga entitas di atas, peperangan kita hari ini adalah Puasa terhadap barang-barang kapitalisme yang tidak ramah lingkungan (bahan kimiawi) yang tidak support kepada alam.
 
Mie Instan, Sabun dan shampo kimiawi, AMDK pemutih air dll adalah sebagian dari produk yang perlu kita lawan dalam bentuk 'puasa' terhadapnya.
 
Sembari membuat produk alternatif yang berpihak pada ummat, maka kita mulai dari proses pindah pakai kebutuhan produk keseharian kita.

Termasuk juga dalam hal Sedeqah Terstruktur, misalnya memberi makan orang yang membutuhkan dengan makanan sehat, halal dan toyyib bagi Manusia dan Alam Semesta, sebagai perwujudan Rahmatan Lil 'Alamin.

Kunci nya ada pada :
1. Membeli produk Indonesia
2. Membela bangsa Indonesia dan
3. Menghidupkan semangat persaudaraan.
Kesemuanya buat Ummat dan Kemanusiaan.

Wallahu'alam....

Hari 'Soul' Putra Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com Founder IBC/Indonesian Business Community Motivator Keuangan Indonesia 0815 1999 4916


#PuasaIngRame
#GayaHidupSehatKeuangan
#KetenanganKeuangan
#MotivasiKeuangan
#TerapiKeuangan
#TerapiCashFlow

Rabu, 18 Oktober 2017

Delivering Great SERVICE (H.E.A.R.T Formula)

"Service bagaikan darah dalam bisnis. Tidak akan hidup suatu bisnis tanpa adanya Service yang mengalir dalam bisnis Anda" ~ Erwin Snada

Sahabat, prestasi kerja seseorang ditentukan oleh bagaimana dia melayani orang lain, apakah Anda seorang Karyawan, Pekerja Mandiri, Pengusaha, investor dll.
 
Anda boleh setuju boleh tidak. Namun fakta mengatakan demikian, setidaknya itu berdasarkan penelitian dan pengalaman yang kami lakukan selama hampir 15 tahun di bidang Service Excellence.

Mengapa ‘melayani’ menjadi hal terpenting dalam prestasi kerja?
Karena tidak ada pekerjaan yang tidak ada unsur ‘melayani’. Melayani adalah INTI pekerjaan. Si tukang sapu yg menyapu jalanan setiap hari, dia begitu tekun melakukan pekerjaannya semata-mata karena melayani pemakai jalan dan atasannya. Pun presiden sang pemimpin negara, dia begitu sungguh-sungguh bekerja untuk melayani rakyatnya.

Lalu bagaimana dengan KOMPETENSI ?
Ya! Dalam konteks ini kompetensi hanyalah sebagai ‘alat’ agar seseorang bisa melakukan pekerjaan.

Namun mental ‘melayanilah’ sejatinya yang menggerakkan orang agar mampu memanfaatkan kompetensinya semaksimal mungkin dalam bekerja.

WORK WITH HEART, bekerja dengan hati adalah cara untuk meningkatkan produktifitas kerja kita semua.
Pendekatannya adalah dengan memberikan dan membentuk MINDSET MELAYANI yang benar sebagai INTI dari bekerja. 

Bukan hanya mindset yang dibentuk, cara ini juga memberikan bagaimana melakukan pekerjaan dengan cara yang menyenangkan dengan 5 elemen kerja terbaik, yaitu : Helpful, Empathy, Attention, Responsive dan Trust (HEART).

Formula ‘HEART’ ini, Insya Allah akan di bedah dalam Radio Talk Show pada Program Komunitas Bisnis Indonesia yang tujuannya membantu kita semua memahami bagaimana melakukan pekerjaan dengan menyenangkan sehingga bekerja bukan lagi sesuatu yg memberatkan.
 
Dengan demikian peningkatan produktifitas kerja akan mudah terwujud,Insya Allah.


Yuk, simak Program KBI (Komunitas Bisnis Indonesia) di Radio Bina Swara Depok dan jaringannya, bersama :

Hari 'Soul' Putra (Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com Founder IBC/Indonesian Business Community Motivator Keuangan Indonesia).

Jum'at, 20 Oktober 2017 M

Pukul 10.00 Wib

Dengan Bintang Tamu : Bp Erwin Snada (Pengusaha, Service Coach, Penyanyi Religi)

http://www.binaswara.id

Atau bisa di dengar melalui 107,8 FM Depok, Jawa Barat

Download di Google Play Store :
Bina Swara FM


#DeliveringGreatService
#InspirasiKeluarga
#KetenanganKeuangan
#MotivasiKeuangan
#TerapiKeuangan

Selasa, 10 Oktober 2017

The Power of Money Management & Business SERIES™

Jika Anda memiliki Mental Miskin, walaupun berlimpah materi hari ini, ujungnya akan tetap miskin.  


Tapi, jika Anda memiliki Mental Kaya (abundance mentality), dan Anda bisa Disiplin untuk Hidup Semurah Mungkin, Insya Allah ujungnya akan menjadi Kaya atau Sejahtera.

Disiplin Bisnis dan Disiplin Keuangan merupakan Dua Hal yang harus Anda miliki di samping Disiplin Diri dan Disiplin dalam berAgama. 

Dengan memahami disiplin dalam bisnis dan disiplin dalam keuangan, Insya Allah akan mengantarkan Anda menuju Kekayaan dan Kesejahteraan sebenarnya.

Jika kita memberi (giving), maka tantangannya adalah seikhlash mungkin, semakin tinggi ikhlash kita semakin baik.  Namun ketika kita melakukan sebuah aktivitas bisnis, maka harus se-DISIPLIN mungkin.

Disiplin inilah yang menjadi ruuh dari bisnis, tanpa itu bisnis akan jalan di tempat atau bahkan mengalami kematian.

Dalam aspek Money Management, ada 4 disiplin yang jika kita konsisten melakukannya, maka tidak saja bisnis atau usaha kita yang akan berkembang, tetapi diri kita pun akan mengalami pertumbuhan mental yang signifikan.

Banyak para pebisnis hanya ingin dilihat besar, tanpa memikirkan atau membangun KEKUATAN fondasi bisnisnya.  Dalam beberapa hal, ingin terlihat BESAR akan berbeda jalan hidupnya dengan terlihat KUAT.

Bagaimana membangun bisnis yang KUAT adalah PR terbesar para pengusaha dalam berbagai level.

Pintu untuk menjadi KUAT ini adalah di mulai dari memahami The Power of Money Management and Business.

Untuk lebih jelasnya mari simak Pengajian Bisnis IIBF Lampung bersama :

Hari 'Soul' Putra Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com Direktur Kaderisasi IIBF Jawa Barat & Aktivis Gaya Hidup Sehat Keuangan)

Mark on your calendar 
 Rabu, 11 Oktober 2017 M
 19.00 Wib
 IIBF Lampung
Jl. Urip Sumoharjo (Samping RS Urip Sumoharjo), Bandar Lampung.


#ThePowerOfMoneyManagement&BusinessSERIES™
#GayaHidupSehatKeuangan
#KetenanganKeuangan
#MotivasiKeuangan
#TerapiKeuangan
#TerapiCashFlow