Kamis, 03 November 2016

Menjadikan TUBUH sebagai ASET

Aset menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan aktiva dan pasiva, kekayaan atau modal.  Definisi umum yang kita pahami, bahwasanya aset adalah segala sesuatu yang kita miliki yang memiliki harga tertentu.

Ketika kita ditanya berapa aset atau harta kita, tentulah secara keuangan kita konversi ke dalam suatu bentuk, misalnya nilai uang. Makanya setiap tahun aset atau harta kita selalu berubah nilai uangnya, bisa naik atau turun, bergantung konversinya.

Jika saya sederhanakan lagi, aset adalah sesuatu yang memasukkan uang ke dalam kantong kita, artinya disebut aset ketika ada yang masuk ke dompet kita. misalnya, kita punya kulkas di rumah, dimana kulkas tersebut menghasilkan es batu dan es batu tersebut kita jual, berarti ada pemasukan ke kantong atau dompet kita.

Berbicara tubuh kita, saya jadi teringat pada Arnold Schwarzenegger, atlet binaragawan dan bintang film yang pernah jadi Gubernur di salah satu Negara bagian di Amrik sana. Sebelum pindah ke Amerika, Mr Arnold mendayagunakan fisiknya secara maksimal.  Dari sebuah desa kecil, beliau joging atau lari secara maksimal tiap hari untuk sebuah mimpi memiliki tubuh yang sehat dan indah.

Jadilah awalnya, tubuh Mr Arnold sebagai sebuah liabilitas, yang mengeluarkan uang dari dompet dikarenakan harus melakukan perawatan, dari mulai pola hidup sehat dengan mengonsumsi makan-makanan yang bergizi hingga suplemen yang mahal.
Sebuah pengorbanan akan selalu terbayar dengan sebuah hasil yang signifikan ketika ditekuni. Dari ikut lomba binaraga tingkat desa dan seterusnya hingga jadi seorang bintang film terkenal, menjadikan tubuh Arnold menjadi sebuah aset yang memasukkan uang ke kantongnya.

Begitupun dengan aset dalam diri kita, ada yang disebut aset otot dan aset lemak.
Masih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Lemak adalah pertama zat minyak yang melekat pada daging, gemuk. Kedua berarti sedap atau enak.

Artinya walau lemak bisa menghangatkan tubuh kita, tetapi jika terlalu banyak timbunan lemak dalam tubuh, akan mengakibatkan gangguan pada tubuh kita. Seperti yang mentor saya sering katakan, makanan berlemak tidak akan membuat Anda terserang stroke, kecuali Anda makan setiap hari.

Lemak dalam perspektif motivasi Keuangan, berarti aset lemak yang secukupnya saja kita punya, yang betul-betul kita butuhkan, misalnya barang-barang atau benda-benda yang menunjang aktivitas pekerjaan atau bisnis kita, misalnya kendaraan.

Yang kedua adalah aset otot. Otot adalah urat yg keras, mengotot atau berkeras hati, tidak mau mengalah, tegar hati. Dengan memiliki aset otot, kita akan bisa menghasilkan uang seperti yang Arnold lakukan. Dengan aset otot inilah yang harus kita perbanyak agar menjadi sebuah pemasukan, tentu dengan melihat kondisi tubuh kita masing-masing.

Tiga Bentuk Aset Otot
Saya membagi aset otot tersebut menjadi 3 bagian, yakni:

1. Fisik (Physic)
Aset otot berbentuk fisik berarti yang saya contohkan di atas.  Bisa saja aktivitas fisik yang melibatkan tubuh kita, misalnya para atlet sepakbola, bola basket dan lain sebagainya.
Apa yang membedakan antara pesepakbola negeri kita dengan pesepakbola tingkat dunia seperti Lionel Messi dan Ronaldo? Mereka sadar betul bagaimana mendayagunakan aset otot fisik mereka untuk menghasilkan pundi-pundi uangnya.

Padahal secara teknik, apa yang dikerjakan oleh pesepakbola negeri ini sama dengan pesepakbola tingkat dunia tersebut, sama-sama berkeringat di lapangan hijau dengan mengejar dan menendang si bola bundar.

2. Pengetahuan (Knowledge)
Aset otot berbentuk pengetahuan adalah sebuah aset yang akan terus meningkat.  Semakin langka sebuah ilmu atau pengetahuan, semakin mahal harganya.
Hari ini kita lihat fenomena 4G, gelombang ke 4 dalam bidang telekomunikasi.Hampir semua produsen atau provider telekomunikasi menawarkan paket 4G dengan berbagai kemudahannya. Tentulah royalti dari penemu tersebut, akan semakin meningkat jika semakin banyak yang menggunakan teknologi tersebut.

The Power of Knowledge (Kekuatan Pengetahuan), IT atau teknologi informasi adalah sebuah pengetahuan yang sangat mahal untuk dasawarsa terakhir ini. Dengan Anda memiliki aset otot pengetahuan yang dikolaborasikan dalam dunia industri dinamis maka Anda akan bisa meningkatkan pendapatan Anda secara signifikan.

3. Keterampilan (Skill)
Aset otot yang tidak kalah bagusnya adalah keterampilan. Berapa banyak lembaga sertifikasi negeri ini yang hadir untuk menyesuaikan kondisi zaman.

Ketika kita lulus dari bangku kuliah, ijazah yang kita punyai belum tentu menjadi daya tarik sebuah perusahaan untuk merekrut kita menjadi karyawannya. Masih diperlukan sebuah keterampilan yang mendukung dan sangat dibutuhkan sebuah industri.

Apa saja industri tersebut, bisa Anda cek di BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).  Dalam bidang pengembangan diri, para pengajar tradisional seperti guru, dosen dan pelatih di kampus-kampus tradisional secara uang, penghargaan mereka sangat kecil, bandingkan dengan para pengajar non formal seperti trainer, coach, mentor yang hidupnya bergerak dari satu seminar, kursus, pelatihan dan sebagainya. Keterampilan yang mereka ajarkan, hal-hal praktis dalam menghadapi hidup dan kehidupan.

Jika seorang dosen di kampus negeri terkenal di negeri ini mengantongi Rp 75 ribu hingga Rp 200 ribu per jamnya, sementara si trainer, coach dan sebagainya bisa mengantongi Rp 500 ribu tak terhingga per jamnya. Bahkan ada yang per jamnya dihargai Rp 150 juta sekali seminar.

Sama-sama ngajar dan berbagi, tetapi yang satu dihargai tinggi sekali, yang lainnya biasa saja. Kuncinya ada pada keterampilan yang merupakan aset otot.

Selamat memiliki dan memaksimalkan aset otot!



Hari 'Soul' Putra
Managing Director WealthFlow 19 Technology
Founder SWAT ACTION
Motivator Keuangan Indonesia