Selasa, 24 Oktober 2017

Kenapa Karyawan Anda perlu Melek Keuangan?

Di sebuah sesi Public Training, ada seorang Dosen Ekonomi dari sebuah perguruan tinggi terkenal menghampiri saya.
 
"Pak Hari, bagaimana cara saya mengatur uang gaji saya setiap bulan" tanya beliau.

Saya yakin sekali, dosen tersebut sangat paham jika harus menghitung keuangan sebuah perusahaan.
 
Menganalisa secara detail, dengan rasio-rasio keuangan yang banyakpun menjadi makanan sehari-hari beliau.
 
Dan tentu, beliau lebih tahu jika keuangan sebuah perusahaan dikelola dengan tidak disiplin, tentu akan menghancurkan perusahaan tersebut.

Tetapi masalahnya, setiap akhir bulan menerima gaji, beliau selalu datang lebih awal ke sebuah mall, berbelanja lebih banyak dari biasanya.
 
Begitu akhir bulan, persediaan gaji sudah semakin menipis, dan jurus Membuka Kartu Kredit langsung beraksi.
Begitu setiap bulan terjadi, tanpa bisa mengerem gaya hidupnya.

Apa pesan dari pengalaman di atas?
 
Tidak cukup kita Tahu dan Paham saja tentang Ilmu Mengelola Keuangan, tetapi perlu sebuah KeSADARan agar kita benar-benar Melek Keuangan.


Melek Keuangan bagi Karyawan

Apa itu Melek Keuangan?
 
Sederhananya sebuah perilaku yang sadar keuangan (tidak sekedar tahu dan paham saja tentang pengetahuan pengelolaan keuangan), tetapi juga bisa mendayagunakan pengetahuan tersebut buat mencapai kemerdekaan dan ketenangan keuangan.

Kenapa harus merdeka dan tenang keuangan?
 
Selagi kita masih mencari uang, maka sebenarnya kita belumlah merdeka dari uang.

 
Merdeka dari uang, bukan berarti kita tidak butuh uang, tetapi tidak sekali-kali kita diperbudak atau diperhamba oleh uang.
 
Berapa banyak dari kita mau Financial Freedom dengan cara Pindah Kuadran ala Cash Flow Quadrant-nya Kiyosaki, tetapi yang terjadi akhirnya tidak punya waktu lagi buat keluarga, kerjanya hampir 24 jam sehari, bahkan dirinyanpun didzolimi.
 
Esensinya merdeka keuangan adalah cukup uang dan isi dunia di tangan, bukan di hati.

Secara garis besarnya, kita akan melewati Fase Kesenangan Keuangan, lalu Ketegangan Keuangan dan berakhir di Ketenangan Keuangan, jika kita naik kelas.
Bagaimana jika kita tidak naik kelas, yang terjadi adalah Cobaan Keuangan.

Mari kita lihat sejenak, seorang karyawan yang punya penghasilan standar UMP/Upah Minimum Provinsi atau sedikit di atas UMP, jika mau disiplin sedikit, akan bisa menabung atau investasi 5-10% dari penghasilannya.

Tetapi, ketika beliau naik menjadi Supervisor atau Manager, maka otomatis Gaya Hidup-nya naik dan Utangnyapun bertambah.

Belum lagi jika dia dan isterinya, tidak tahu cara mendayagunakan uang tersebut.

Disinilah, pangkal masalah keuangan terjadi, sama-sama 'Buta Keuangan'.

Mau tidak mau, suka tidak suka, Anda harus Melek Keuangan dan jadi Aktivis Gaya Hidup Sehat Keuangan.


Peran bagian SDM Perusahaan

Disini pulalah peran HR/Human Resource atau bagian SDM/Sumber Daya Manusia berperan sebagai bridging atau jembatan, antara Praktisi Keuangan dan Karyawan dan Keluarganya tadi untuk dipertemukan.

Kenapa HR atau bagian SDM?
 
Hari ini, persoalan utang bukan lagi sebuah persoalan yang tabu/rahasia.
 
Setiap hari tawaran kredit dari KTA, Koperasi, Jalan-jalan dll beredar dari Sms ke Media sosial kita seperti FB, WA, Telegram dll.
 
Belum lagi jika kita menginstal aplikasi Instagram, maka godaan BELANJA menjadi menu sehari-hari di Smartphone kita.

Apakah itu salah?
 
Tidak bagi para penjual, tapi bagi pembeli yang tidak bijak, akan jadi boomerang yang akan menghancurkan fondasi keuangan Anda.
 
Apa itu Fondasi Keuangan kita?
1. Saving
2. Protection
3. Asset.

Mungkin kita menganggap, cicilan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) adalah kebutuhan, KPM (Kredit Pemilikan Mobil/Kendaraan) juga kebutuhan, Asuransi berbasis Unitlink adalah kebutuhan dll.
 
Dari kebiasaan utang yang menjadi kebutuhan merambah ke Kartu Kredit adalah juga kebutuhan, ketika tawaran KTA (Kredit Tanpa Agunan) juga kebutuhan hingga akhirnya Kredit Tupperware dan Kredit Panci pun sebagai sebuah kebutuhan.
Jika kebutuhan tidak terbatas, maka masalah keuangan yang Anda hasilkan dari gaji tiap bulan, terbatas.
 
Disinilah mulai muncul masalah, alih-alih semua merasa kebutuhan, maka lebih besar pasak daripada tiang.


Utang yang melenakan

Suatu hari, utang itu akan meledak dan mulailah Anda gali lubang tutup lubang.
 
Bekerja sudah mulai tidak nyaman, tiap hari di teror oleh Debt Collector (DC), ujungnya juga berimbas ke bagian HRD.

Anda yang menjadi kepala sebuah departemen HR, sibuk mengangkat telepon dan bertemu DC untuk menjadi Benteng Pertahanan terakhir, akibat karyawan Anda yang berutang.

Secara performa, karyawan Anda menurun, otomatis produktivitas perusahaan menjadi lambat.

Apakah benar, yang karyawan Anda nilai sebagai sebuah kebutuhan, benar-benar kebutuhan?


Ringkasnya, kebutuhan adalah yang benar-benar kita sangat butuhkan, misalnya makan.

Tetapi, jika kebutuhan tersebut bisa kita tunda, maka itu disebut keinginan, misalnya makan-makan sama teman.

Jika ini saja kita tidak bisa bedakan, bagaimana kita bisa membedakan mana yang disebut Simpanan, Tabungan dan Investasi.
 
Mana yang membedakan Utang dan Harta?
 
Apa yang membedakan Aset Otot dan Aset Lemak dll.
Inilah yang saya kira perlu bagian HRD pahami dan karyawan beserta keluarganya sadari untuk Melek Keuangan.

Sebelum saya akhiri tulisan ringkas ini, mari kita pikirkan prioritas mana yang harus kita dahulukan, apakah Kebutuhan hidup sehari-hari kita, Gaya hidup, Utang, Sedeqah/zakat/Sosial, Menabung, Investasi atau Proteksi?

Lalu berapa persen pembagiannya sebagai panduan kita agar Sehat Secara Keuangan?

Jika ini sudah CLEAR, maka menatap Masa Depan Cerah Keuangan menuju kesejatian Kemerdekaan Keuangan dan Ketenangan keuangan bukan lagi sebuah masalah.


Hari 'Soul' Putra Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com Founder IBC/Indonesian Business Community Motivator Keuangan Indonesia 0815 1999 4916



#KenapaKaryawanAndaPerluMelekKeuangan
#GayaHidupSehatKeuangan
#KetenanganKeuangan
#MotivasiKeuangan
#TerapiKeuangan
#TerapiCashFlow