Selasa, 25 April 2017

Pesan Chef Kaya untuk anak kita

Gordon Ramsay mungkin chef paling kaya di dunia, tetapi anak-anaknya tidak sekaya bapaknya, karena mereka tidak akan mewarisi kekayaan Ramsay yang besarnya US $140 juta (Rp 1,8 trilyun). 

Gordon Ramsay termasuk salah satu orang super kaya yang berkata bahwa ia tidak akan mewariskan hartanya pada anak anaknya, disamping  Bill Gates, Warren Buffett, George Lucas dan Sting.

Alasannya, ia tidak mau memanjakan mereka sehingga mereka berakhir sebagai orang yang gagal.

Anak-anak Ramsay terbang dengan kelas ekonomi, sementara Ramsay dan istrinya terbang dengan “first class”. 

Menurutnya, “Mereka belum bekerja cukup keras untuk layak mendapatkan hal itu.”

Anak-anaknya diberi uang saku secukupnya, dan mereka harus membayar biaya telepon serta bus (mereka sekolah naik bus bukan mobil).

Memasak, bagian dari keterampilan hidup

Anak anak Ramsay terlibat aktif dalam kegiatan sosial, dan mereka diajar untuk memasak supaya memiliki keterampilan untuk hidup, namun harus berjuang sendiri untuk meraih cita-cita mereka.

Memberi fasilitas terlalu banyak akan melemahkan daya juang anak-anak Anda, membuat mereka tidak bertanggung jawab, dan berperilaku buruk karena merasa berhak mendapatkan perlakuan bintang lima karena kekayaan mereka. 

Tetapi orang tua seringkali melakukannya dengan alasan bahwa mereka bekerja keras untuk anak-anaknya. 

Alasan lain karena mereka malas mendidik dan menyerah saja ketika anaknya merengek, “Semua temanku yang lain punya itu.”

Apa yang sebenarnya anak-anak Anda BUTUHKAN dari Anda?

Cinta kasih, bimbingan, tempat tinggal, makanan, pakaian, pendidikan dan pemeliharaan kesehatan. Itu saja.

Lainnya adalah KEINGINAN yang cenderung berupa kemewahan, seperti gadget teranyar, fashion keren, jam tangan dll.  

Orangtua ingin anaknya “bahagia” namun sebenarnya yg anak anak butuhkan adalah orangtua yang mendorong mereka  untuk mampu mandiri.

*MENGHABISKAN WAKTU DENGAN ANAK-ANAK LEBIH PENTING DARI PADA MENGHABISKAN UANG UNTUK MEREKA.*

Silakan diambil ibrah-nya, semoga bermanfaat.

Sumber : Group WA

Jumat, 14 April 2017

Jangan pernah menggunakan uang receh!

Ada seorang Professional Mother (Ibu rumah tangga profesional) yang telah menikmati masa pensiunnya selama 25 tahun terakhir ini.

Kini aktivitas sehari-harinya adalah melihat perkembangan dan pertumbuhan keluarga anak-anaknya.

Dalam 10 tahun terakhir ini, beliau dapat menikmati perjalanan ke luar negeri dalam tour yang menyenangkan, menikmati keindahan alam kemanapun ia suka.

Bersyukur atas kelimpahan Rahmat dari Allah SWT.

Hampir semua negara besar telah dikunjunginya.  Semua objek wisata kelas dunia telah dia nikmati pada masa pensiun yang indah.

Anak-anak dan menantunya terheran-heran karena seluruh biaya perjalanan beliau tanggung sendiri, tidak pernah sekalipun minta biaya dari anak-anaknya.

Padahal, beliau adalah seorang ibu rumah tangga murni sejak 40 tahun yang lalu, dan selama ini anak-anaknya tidak pernah memberikan uang dalam jumlah yang besar sekaligus.

Mereka hanya memberikan uang keperluan rumah tangga (biaya dapur dan keperluan sehari-hari) secara rutin setiap bulan.

Apa Rahasia beliau?

Dengan bijak beliau berkata, "Saya tidak pernah memakai uang receh/uang logam kembalian belanja sayurnya selama 40 tahun"

"Setiap saya berbelanja untuk keperluan dapur dan cuci-mencuci, dan setiap kali mendapatkan uang logam kembalian, saya selalu menyimpannya. 
Saya pantang berbelanja dengan uang logam.  Saya selalu membayar dengan uang kertas.

"Ketika uang logam saya banyak, saya menukarkannya dengan uang kertas kepada tukang sayur langganan, lalu saya membawa uang kertas hasil penukaran itu ke toko emas, saya membeli satu dua gram emas sesuai dengan uang yang saya miliki.

"Saya tidak pernah lupa melakukan hal ini selama 40 tahun.  Saya tidak peduli berapa harga emas ketika saya membeli, apakah harganya sedang mahal atau sedang murah. 
Saya membelinya sejumlah uang kembalian yang saya bisa kumpulkan (Prinsip Gold Cost Averaging).

"Sejak sepuluh tahun yang lalu, saya menjual emas saya dan menukarkannya dengan Dollar/Euro/Real karena saya kesulitan menyimpan emas saya.

"Hanya itu, dan itulah yang membiayai Ibu dalam perjalanan keliling dunia selama 10 tahun terakhir."

Inilah sebuah kebijaksanaan dari seorang Ibu rumah tangga yang memiliki Prinsip Sederhana, yaitu "Jangan pernah menggunakan uang logam kembalian, tabung dan investasikan seluruh uang logam kembalian tersebut dan lakukan itu bertahun-tahun sejak muda.

Perhitungan Emas Vs Uang Kertas

Jika kita kembali ke tahun 1975 dimana harga Sepeda Motor Bebek seharga Rp 150.000,-
Sementara harga Emas saat itu Rp 2.000/gram, artinya perlu 75 gram agar dapat membeli motor bebek tersebut.

Jika kita konversi saat ini dengan harga motor bebek antara Rp 13-15jt maka dengan 75 gram emas (1 gr = Rp 550.000) dapat Rp 41.250.000, artinya dapat membeli 2-3 motor bebek.

Bandingkan dengan Anda menyimpan/menabung menggunakan uang rupiah, hari ini Rp 150.000 mungkin hanya dapat beli 2-3 bebek tanpa motornya.

Dalam Prinsip Tradisional, Konsep di atas tetap bisa kita laksanakan, sementara bagi yang ingin menerapkannya dalam bentuk digital dari pengeluaran rutin harian atau bulanan, sekarang pun sudah ada aplikasinya.

Ingin tahu lebih detail, bisa WA 0853 1299 9604.

Sumber Inspirasi dari L.Y Wiranaga (dengan penyesuaian)

Hari 'Soul' Putra
Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com
Founder SWAT ACTION
Motivator Keuangan Indonesia
0815 1999 4916

#JanganPernahMenggunakanUangReceh
#MenabungEmas
#SihirUangKertas
#PengeluaranYangJadiPemasukan








   

Senin, 10 April 2017

Anak yang tidak diharapkan


Bermula dari rumah

“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku lapor sekolah Risyad. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Risyad dengan keras. Risyad meringis.

Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Risyad berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan ke kaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Risyad menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Risyad ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukuli Risyad. Suamiku terduduk dikursi. Matanya kosong memandang kearah Risyad dan kemudian melirik kearah ku 

“ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.
Kupeluk Risyad. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai lapor buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Risyad dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”

“ Risyad udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Risyad memang engga pintar seperti uga dan citra. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Risyad, pintar kok. Risyadkan anak ayah. Ayah Risyad pintar tentu Risyad juga pintar. “

“ Risyad bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Risyad telah mengecewakan Ayah, ya bunda “

Malamnya , adiknya Uga yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Risyad menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Risyad. Kurasakan badannya panas.Kupeluk Risyad  dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Risyad tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Risyad membalas pelukanku. 
‘ Bunda, temani Risyad tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.

Risyad adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Risyad. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Risyad lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Risyad pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Uga lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Citra lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Risyad mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. 

Makanya mereka disekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gixi yang cukup dan lingkungan yang baik.

Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Risyad bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gixi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.
Seprkan setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Risyad kepesantren. AKu tersentak.
“ Apa alasan Mas mengirim Risyad ke Pondok Pesantren “
“ Biar dia bisa dididik dengan benar”
“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”
“ Ini sudah keputusanku, Titik.
“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.

Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Risyad. Suamiku ingin memisahkan Risyad dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Risyad akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.
Ketika Risyad mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.
Dia peluk aku “ Risyad engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.
Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. Tidak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “

Setelah Risyad berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Risyad.

Tak terasa Risyad kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. CITRA kelas 1 SMU dan Uga kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Risyad pulang kerumah, Risyad lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.

Ku purhatikan tahun demi tahu perubahan Risyad setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.

Setamat Madrasa Aliyah, Risyad kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Risyad setelah lulus dari pondok. Risyadpun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.
Selama setahun setelah Risyad tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Risyad tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Risyad karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Risyafd. Tapi Risyad tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.


Ujian Kehidupan Pertama

Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Risyad dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Risyad sujud dikaki ku sambil berkata “ Risyad tidak mencuri , Bunda. Tidak, Bunda percayakan dengan Risyad. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Risyad dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Risyad. Alhamdulilah Risyad dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Risyad dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.

Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Risyad dari rumah. Risyad tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Risyad belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Risyad“ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Risyad Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir Risyad dari rumah.
“ Mas,  Dimana Risyad akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Risyad.
“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.
***
 
Tak terasa sudah enam tahun Risyad pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Risyad berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Citra kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Ugapun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Risyad, aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “


Ketika Prahara Datang

Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara.

Media massa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Citra malas untuk terus kuliah karena malu dengan teman temannya. Uga juga sama yang tak ingin terus kuliah.

Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.
Ridyadku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Citra dan Uga juga segera memeluk Risyad. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.

Kehadiran Risyad dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Risyad membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Risyad mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahu setelah itu, Citra kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Uga. Setiap maghrib dan subuh Risyad menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Risyad tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya

“ Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. . Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “

“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialogh dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “

Seusai Risyad berbicara , aku selalu menangis. Risyad yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram.


Epilog

Mahasuci Allah , terimakasih ...
Saat suamiku keluar dr hotel prodeo Risyad yg menjemput nya di depan pintu didampingi oleh kedua adiknya... aku melihat dari kejauhan...  Risyad langsung salim cium tangan ayahnya kemudian mrk berdua berpelukan erat...  Suamiku memandang cukup lama ke arah muka Risyad...  pasti kangen suamiku dengan anak sulung nya .... tidak terasa air mataku mengalir meluhat moment yg indah itu...  sejak kecil Risyad selalu merindukan pelukan ayahnya namun tidak pernah dia dapatkan....  hanya adik² nya yg sering di peluk ayahnya krn prestasi sekolahnya lebih
baik..  beda dg Risyad justru pukulan yg dia terima....

Smg kisah ini bermanfaat bagi kita dan selalu introfeksi diri  

Sumber : Group WA

Minggu, 09 April 2017

Viral Marketing, antara Productive Income Vs Passive Income (Bagian 2)

Setelah membahas tentang KETENANGAN KEUANGAN, mari kita jelajah makna Viral Marketing.

Viral itu artinya mengalir dan kontinu, istilah orang-orang zaman dahulu adalah Getok Tular, sebuah frasa yang bermakna WOW, sehingga orang akan terus memperbicangkannya.
Jadi viral marketing berarti pemasaran yang mengalir ke konsumen, seperti air bah yang susah terbendung jika menemukan momentumnya.

Agar tidak rancu pemahaman dengan MLM, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu perbedaan antara menjadi member MLM (Multi Level Marketing) dengan Viral Marketing.

Menjadi member/anggota di salah satu MLM maknanya Anda sama saja dengan menjadi marketing lepas waktu dari sebuah perusahaan. Anda harus berusaha menjual produk, sekaligus melakukan pembinaan terhadap jaringan kerja (selling & service).

Tidak ada bedanya pejabat departemen marketing sebuah perusahaan dengan pemain MLM.  Keduanya harus memasarkan produk, mengelola sales force, memotivasi sales force, mengembangkan area coverage, menguasai product knowledge dll.

Segalanya sama saja.  Yang berbeda hanya cara kerja dan sistem imbalannya.  Tenaga marketing perusahaan non-MLM mendapatkan gaji dan komisi, serta bekerja penuh waktu (9 am - 5 pm), sedangkan pejabat dalam MLM menerima komisi saja tanpa gaji, dan bekerja paruh waktu (bukan 9-5). 

Viral Marketing berbeda dengan MLM, karena melibatkan diri dalam Viral Marketing kita menjadi konsumen yang mendapatkan imbalan kalau kita memberikan referensi kepuasan produk kepada calon konsumen berikutnya, tanpa ada kewajiban melakukan penjualan produk, tanpa ada kewajiban membina jaringan organisasi pemasaran dll.

Jadi berbeda ya, antara MLM dan Viral Marketing.


Memilih Viral Marketing

Karena banyaknya yang menyamakan antara MLM dan Viral Marketing, baiknya kita tajamkan terlebih dahulu, apa itu Viral Marketing dalam bentuk kriteria.

Untuk menentukan dan akhirnya memilih Viral Marketing yang baik, berikut beberapa kriterianya :

1. Produknya
Apakah produk tersebut merupakan produk-produk yang rutin Anda pergunakan di rumah atau di kantor.
 
Berkorbanlah seminimal mungkin untuk meraih hasil seoptimal mungkin.
Lakukan penggantian produk (pindah pakai) dengan produk yang sama tetapi bermerek lain.

Syaratnya adalah bahwa produk bermerek tersebut harus memberikan kualitas yang sama dengan produk yang selama ini Anda pergunakan dan memberikan harga yang relatif sama (kompetitif)

2. Perusahaannya
Cara melihat baik buruknya sebuah perusahaan adalah dengan melihat produk yang ditawarkan.
 
Pola pemilihan produk yang mereka pasarkan mencerminkan karakter perusahaan tersebut.
Dengan memahami karakter perusahaan, Anda dapat memutuskan apakah karakter tersebut cocok dengan karakter atau kepribadian Anda.

Kalau Anda sembarang pilih, teman yang menerima rekomendasi Anda akan memberikan 'cap' yang sama, yang menempel dalam citra produk dan perusahaan itu kepada Anda.
Persis seperti ketika Anda merekomendasikan kepuasan pelayanan seorang dokter cakap kepada teman Anda yang sedang sakit, itulah Prinsip Viral Matketing.

Satu lagi, lihat juga siapa pemiliknya dengan apa visi perjuangannya dalam membuat perusahaan Viral Marketing.
 
Caranya dengan Anda lakukan Mabit-Safar-Muamalah.
Syukur-syukur bisa berinteraksi langsung dengan pemiliknya.

3. Harganya
Perhatikan harga yang mereka tentukan. 
Apakah harganya wajar? 
 
 Apakah harganya mendekati harga produk sejenis di toko atau supermarket?
Jangan membeli produk dengan harga premium demi sejumlah hadiah, bonus, imbalan, undian atau apapun.
 
Belilah produk yang relatif sama dengan harga yang relatif sama pula.
Fokuskan pilihan Anda pada harga yang wajar, dan bukannya pada tingginya potensi bonus.

4. Sistem bonusnya
Apakah bonus yang mereka berikan itu bonus yang bersifat terus menerus, ataukah bonus yang bersifat satu kali saja?

Carilah perusahaan Viral Marketing yang memberikan imbalan secara residual atau terus menerus atas jasa rekomendasi Anda tersebut karena mereka menerima penghasilan secara terus menerus juga.
Ini berimbang dan adil.

Viral marketing yang harus Anda pilih adalah yang memberikan bonus untuk referal beberapa level.
Tetapi bukan menaikkan harga jual produknya secara tidak wajar.
Jadi idealnya keuntungan si perusahaan Viral Marketing tersebut hanya 30% dan 70% untuk mitranya.
Bukan sebaliknya, dengan memark-up porsi 30% tadi menjadi 100%-200%, sehingga konsumen akhir (end user) dirugikan, karena harganya kemahalan.

5. Pendaftaran dan iurannya
Kalau Anda diajak untuk melakukan aktivitas Viral Marketing, tetapi Anda harus membayar biaya pendaftaran membership apalagi membayar iuran bulanan atau tahunan, saya sarankan Anda untuk tidak ikut.

Jangan pernah mau ikut viral marketing yang menerapkan biaya keanggotaan, apalagi iuran tahunan keanggotaan sekecil apapun.

Termasuk juga biaya-biaya samaran lainnya seoerti kewajiban untuk ikut Seminar Pengenalan Sistem, atau biaya Seminar Pengenalan Produk dll.

6. Target belanjanya
Dalam viral marketing, tidak perlu ada target pembelian, apalagi target penjualan.
Satu-satunya kewajiban wajar bagi Anda adalah hanya menjadi konsumen mereka.

Jangan sampai Anda dipekerjakan secara tidak sadar, dimana Anda diminta untuk menjadi tenaga pemasaran mereka dengan target yang lebih besar dari konsumsi wajar Anda setiap bulan.

7. Syarat lain yang harus dihindari
Viral marketing bukan Binary System dimana jumlah peserta atau jumlah konsumen baru harus seimbang antara kaki kiri dan kaki kanan Anda.

Dalam viral marketing tidak ada batasan untuk mengajak teman, jadi boleh mengajak teman-teman atau prospek yang kita sharingkan sebanyak-banyaknya.

Viral marketing adalah penggunaan pemasaran yang diperoleh secara optimal dari mulut ke mulut.

Perhatikan seluruh syarat yang saya kemukakan di atas. 
Anda cukup rekomendasikan produk itu kepada beberapa teman Anda.
Tak perlu rumit. 
Sederhanakan selama bisa Anda sederhanakan, karena Anda masih memiliki kewajiban Anda yaitu HIDUP Anda, Profesi Anda, Pekerjaan Anda agar dapat terus berkembang.

Yang terakhir, berikut kesimpulan saya, kriteria viral marketing yang harus Anda pertimbangkan adalah :
1. Produknya berkualitas dan memang Anda perlukan, bukan produk yang mengada-ada atau terlalu asing bagi Anda, apalagi yang masih kontroversial.
2. Harga produk bersaing dengan merek lain di toko atau supermarket pada umumnya.
3. Program sederhana dan mudah dimengerti
4. Memberikan bonus minimal 6 level, agar bisa mendapat bonus yang berarti, tanpa mark-up sangat tinggi hingga 'merugikan' konsumen cerdas
5. Bonus bersifat residual, bukan hanya satu kali saja tapi berkelanjutan sesuai dengan penghasilan perusahaan penyelenggara program
6. Tidak ada target menjual atau target point apapun, apalagi target penjualan downline
7. Tidak ada syarat jumlah downline ataupun jabatan downline
8. Tidak ada syarat pembayaran kepesertaan, biaya pendaftaran, atau syarat iuran apa pun
9. Tidak diwajibkan ikut seminar atau pelatihan tertentu dalam bentuk apa pun
10. Syarat belanja sesuai dengan kebutuhan wajar sebagai konsumen
11. Pengorbanan maksimal Anda hanyalah mengganti merek dari yang biasa ke merek yang memberikan program.

Semoga lewat Viral Marketing, yang ada adalah Productive Income, bukan sekedar Passive Income.
Dan keberkahan Insya Allah mengalir dari Uang Anda.

Jika Anda tertarik dengan Program Viral Marketing di atas, silahkan menghubungi WA 0853 1299 9604.

Sumber Inspirasi dari L.Y. Wiranaga (dengan penyesuaian)


Hari 'Soul' Putra
Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com
Founder SWAT ACTION
Motivator Keuangan Indonesia
0815 1999 4916


#ViralMarketing
#KetenanganKeuangan
#ActiveIncome
#MassiveIncome
#PassiveIncome
#ProductiveIncome
#DistributiveIncome
#KeberkahanFinansial

Jumat, 07 April 2017

Rekening Pengusaha Vs Rekening Karyawan

Sebagai karyawan biasanya karakter rekening kita mirip seperti voucher isi ulang handphone.

Pada akhir bulan/awal bulan (sesuai tanggal penerimaan gaji) terisi penuh akibat masuknya gaji, kemudian secara sedikit demi sedikit akan keluar karena digunakan untuk biaya hidup sampai ke tanggal gajian bulan berikutnya.

Begitu terus dari waktu ke waktu, sehingga pola ini sudah menjadi sebuah karakter pola pengaturan keuangan dan akan sampai puncaknya ketika Anda pensiun atau tidak ada lagi uang yang masuk berupa gaji bulanan.

Di saat itulah Anda baru sadar, jika pola seperti ini tidak baik, karena hanya mengandalkan 1 income, padahal ada banyak cara agar kita tetap bisa memiliki karakter layaknya seorang pengusaha.

Seperti apa karakter rekening pengusaha?

Rekening aktif dan produktif, setiap hari ada uang keluar dan masuk dari dan ke rekening Anda.

Semakin besar perputaran dana di rekening Anda, semakin kredibel keuangan Anda.
Apalagi jika rekening Anda tidak terganggu likuiditas alias memiliki minimal saldo tertentu.
Bisa berupa dana darurat pribadi/keluarga atau dana darurat usaha Anda, atau gabungan keduanya.

Hal inilah yang harus menjadi konsentrasi kita, agar uang kita terus bertumbuh dan terdistribusi dengan baik, pada yang berhak dan membutuhkan.

Seorang karyawan dengan pola pengaturan keuangan ala rekening voucher isi ulang, sebaiknya mendata kembali apa saja kebutuhan-kebutuhannya.

Lalu mulai mencari Bisnis apa yang ketika Anda belanja kebutuhan hidup sehari-hari Anda akan mendapatkan :
1. Cash back dalam bentuk potongan diskon
2. Cash back dalam bentuk bagi hasil usaha pembelanjaan
3. Cash back dalam bentuk bonus tahunan atau bulanan.

Sehingga setiap bulan selain ada pemasukan dari gaji bulanan Anda, Anda juga bisa menabung dan berinvestasi dan tentunya rekening Anda akan bertambah terus.

Apakah ini utopia?

Tidak, ini riil dan sudah banyak komunitas-komunitas pengusaha yang menjalankannya.
Entah dalam bentuk Koperasi atau Badan usaha lain, baik formal seperti perusahaan atau informal seperti arisan atas dasar kepercayaan (trust).

Mereka saling membantu, sebagai pembelaan atas nasib saudara seimannya.
Misalkan, ada sebuah rumah makan yang akan memberikan potongan harga (diskon) ketika Anda makan di sana.
 
Lalu, karena Anda sudah menjadi member di salah satu anak perusahaanya, maka Anda berhak mendapatkan bagi hasil secara langsung dari aktivitas jual beli di atas.
 
Ketika Anda juga merekomendasikan rumah makan tersebut kepada teman Anda, Anda juga akan dapat bonus atas fee marketing karena sudah 'menjual' produk rumah makan tersebut.
Di akhir tahun, atas dasar loyalitas Anda sebagai pelanggan, dan memang ada pos berbagi buat para pelanggan yang loyal dari rumah makan tersebut, Anda mendapatkan bonus atau hadiah yang sifatnya tidak mengikat.

Jadilah saling menguntungkan antara Anda dan rumah makan tersebut.

Apakah ini nyata?

Saya jawab IYA, jika Anda tertarik dengan konsep di atas dan ingin memiliki karakter rekening seorang pengusaha, bukan sekedar karyawan biasa-biasa saja, silahkan WA 0853 1299 9604 untuk detailnya.


Hari 'Soul' Putra
Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com
Founder SWAT ACTION
Motivator Keuangan Indonesia
0815 1999 4916


#RekeningPengusaha
#RekeningKaryawan
#ViralMarketing
#KetenanganKeuangan
#ActiveIncome
#ProductiveIncome
#DistributiveIncome
#KeberkahanFinansial
#MotivasiKeuangan
#HariSoulPutra
   

Kamis, 06 April 2017

Viral Marketing, antara Productive Income Vs Passive Income (Bagian 1)


Dalam khazanah dunia per-MLM-an sudah jamak di doktrin 3 jenis income/pendapatan, yakni :

1. Active income
Yang merupakan pendapatan yang dihasikan dari kerja langsung kita, misalnya seorang karyawan yang mendapat gaji bulanan.
Atau seorang trainer dari aktivitas mengajarnya, dst.

2. Massive income
Yang merupakan pendapatan yang dihasilkan dari kerja dalam bentuk proyek-proyek besar yang angkanya fantastis, misal pembuatan jalan tol di sebuah daerah, dengan modal dan SDM yang besar juga.

3. Passive income
Yang merupakan pendapatan yang dihasilkan dari kerja tidak langsung kita, misalnya membuat buku yang akhirnya mendapatkan royalti, punya bisnis yang dijalankan pihak lain, sementara kita menikmatinya dengan santai, atau seorang juragan kontrakan yang menyewakan rumah atau tanahnya kepada orang lain dsb.

Jika kita minta pendapat banyak orang, tentulah pilihan ke-3 yang akan banyak orang cari dan jadi rebutan.

Makanya Konsep Passive Income, sangat Populer di dunia per-MLM-an.

Dan secara Teorinya, Bisnis Model ala Network Marketing, Sistem Franchise dan Bisnis Korporasi bisa membuat orang menjadi memiliki "Passive Income".

Benarkah demikian?

Jika kita bahas secara detail dan kita lihat fakta di lapangan, ternyata orang-orang dengan Aset Triliunan, bukanlah para pemalas yang hidup santai sambil ongkang-ongkang kaki menunggu setoran.

Kita ambil satu atau dua contoh, Warren Buffet, Legenda Pasar Modal dan Bill Gates, Pendiri Microsoft (untuk detailnya, silahkan baca Buku Your life your legacy oleh Roger Hamilton).

Jika cita-cita pensiun dan hidup dari akumulasi aset sambil santai, duduk manis dan tenang, maka harusnya Warren Buffet sudah lama tidak terdengar mengelola perusahannya.

"Jika pensiun berarti berhenti bekerja untuk melakukan hal-hal yang Anda senangi, Warren Buffet telah pensiun sejak ia mulai berinvestasi"

Atau mengapa Bill Gates terus bekerja setiap hari?
 
Ini jawabannya :
 
"Saya memiliki pekerjaan paling menyenangkan di seluruh dunia, dan saya sangat menyukai pergi bekerja setiap hari karena selalu ada tantangan baru, kesempatan baru, dan hal-hal baru yang dapat dipelajari.  Jika Anda menyukai pekerjaan Anda seperti ini, maka Anda tak akan pernah kelelahan"

Jadi sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan istilah Passive Income, lebih senang dengan istilah productive income, dimana harta tersebut mengalir dari keringat sendiri dan telah terdistribusi dengan baik kepada orang-orang yang membutuhkan.

Saya harus katakan, ada Sahabat saya yang mendefinisikan tahap MAPAN ketika kebutuhan dasar, investasi dan gaya hidup dipenuhi dari pendapatan pasif atau passive income.

Kalo saya sendiri memiliki pemahaman, apa yang di kenal dengan istilah Tangga Ketenangan Keuangan dimana dasarnya adalah KECUKUPAN HIDUP, apakah kita merasa LAPANG atau sempit dalam mengelola harta kita.

Untuk sampai Tahap TENANG, maka  terpenuhinya Kebutuhan Dasar (Biaya Hidup, bukan Gaya hidup), Sedeqah terstruktur, Investasi secara rutin dan Gaya hidup (life style) semurah mungkin di penuhi dari Pendapatan Distributif (distributive income).

Seperti kita berjihad dengan Harta dan Jiwa,
 
Bukan banyak sedikitnya harta kita yang menjadi ukuran tapi keberkahan itulah yang harus kita imani.

Dengan hidup dalam keberkahan, hati menjadi tenang dan Insya Allah, Rezekipun akan tidak berbilang, rezeki dari tempat yang tidak terduga.

Wallahu'alam...

Bersambung ke bagian 2


Hari 'Soul' Putra
Managing Director WealthFlow 19 Technology www.P3KCheckUp.com
Founder SWAT ACTION
Motivator Keuangan Indonesia
0815 1999 4916


#ViralMarketing
#KetenanganKeuangan
#ActiveIncome
#MassiveIncome
#PassiveIncome
#ProductiveIncome
#DistributiveIncome